BREAKING NEWS

TANGERANG SELATAN

NASIONAL

TANGERANG RAYA

Tuesday, October 6, 2026

Di Ikuti 13 Negara, 7 Calon Atlet Taekwondo GTI SDN 14 Tangerang Kota Sabet Mendali di Kejuaraan Internasional

 

Di Ikuti 13 Negara, 7 Calon Atlet Taekwondo GTI SDN 14 Tangerang Kota Sabet Mendali di Kejuaraan Internasional
Di Ikuti 13 Negara, 7 Calon Atlet Taekwondo GTI SDN 14 Tangerang Kota Sabet Mendali di Kejuaraan Internasional

Tangerang Raya, Korantangsel.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Kota Tangerang di kancah internasional. Sebanyak 7 calon atlet Taekwondo dari Generasi Taekwondo Indonesia (GTI) perwakilan SDN 14 Kota Tangerang berhasil memborong medali dalam ajang Pugnator International Taekwondo Championship 2026.


Kejuaraan liga internasional tersebut digelar di GOR Indoor Stadium Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten, pada 2-4 Oktober 2026 dan diikuti oleh atlet dari 13 negara, di antaranya Filipina, Pakistan, Hong Kong, dan Indonesia sebagai tuan rumah.


Kontingen SDN 14 Kota Tangerang tampil gemilang dengan membawa pulang total 7 medali, dengan rincian 1 medali emas, 4 medali perak, dan 2 medali perunggu. Hebatnya, dari 7 atlet yang diberangkatkan, semuanya berhasil naik podium juara.


Kepala SDN 14 Kota Tangerang, Mintarsih, mengaku sangat bangga dengan capaian anak didiknya.


"Alhamdulillah ya, saya sebagai kepala sekolah SDN 14 ini sangat bangga dengan prestasi-prestasi yang diperoleh siswa-siswa kami. Karena lombanya diikuti oleh 13 negara, alhamdulillah dari perwakilan 7 orang ini semua mendapat juara," ujar Mintarsih.


Ia menambahkan, pihaknya akan terus memberikan dukungan penuh tidak hanya untuk Taekwondo tetapi untuk semua ekskul dan kegiatan positif siswa.


"Saya sangat mensupport dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Pesan saya, semoga ini bisa menjadi motivasi buat anak-anak semua untuk mengikuti ekskul Taekwondo ini," katanya. Ia menyebutkan 7 atlet berprestasi tersebut berasal dari kelas 2, 3, 4, 5, dan 6.

Di Ikuti 13 Negara, 7 Calon Atlet Taekwondo GTI SDN 14 Tangerang Kota Sabet Mendali di Kejuaraan Internasional
Raih 1 Emas, 4 Perak, 2 Perunggu di Pugnator Open 2026 Indoor Stadium Kelapa Dua

Sementara itu, Pelatih Generasi Taekwondo Indonesia (GTI) Cabang Kota Tangerang, Sabeum Yuli, menjelaskan timnya turun di dua kategori pertandingan, yakni Kyorugi (pertarungan) dan Poomsae (jurus).


"Bismillahirrahmanirrahim, dari SDN 14 kita membawa 7 atlet dengan dua kategori kyorugi dan poomsae. Alhamdulillah kita dapat meraih 1 emas, 4 perak, dan 2 perunggu di GOR Indoor tanggal 2 sampai 4 Oktober," jelas Sabeum Yuli.


Meski bangga, ia mengaku masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan prestasi atlet ke depan.


"Hasil tersebut cukup membanggakan, tapi masih banyak PR saya untuk atlet-atlet ke depannya karena target kami adalah semuanya bisa dapat medali emas," tegasnya.


Menurutnya, Banten dalam dua tahun terakhir sudah sering menjadi tuan rumah event internasional, sehingga menjadi peluang besar bagi pembibitan atlet-atlet Kota Tangerang.


Sabeum Yuli juga menekankan pentingnya dukungan semua pihak. "Setiap kami sebagai pelatih, klub, maupun sekolah sangat butuh support dari orang tua, baik itu materi, waktu, dan doa," ujarnya.


Salah satu Calon Atlet dari kontingen tersebut adalah Zaskia Nur Azizah, kelas 6 SDN 14 Tangerang Kota, yang meraih medali emas.


"Alhamdulillah, aku senang, bahagia. Seru, ramai, terus banyak teman, bisa ketemu atlet-atlet dari luar juga," ungkap Zaskia dengan polos.


Ia mengaku sempat ragu karena harus menghadapi lawan-lawan tangguh dari luar negeri yang memiliki power dan kemampuan di atas rata-rata.


"Tantangannya itu dari power, terus dari kemampuan kita, sama kayak tantangannya atlet-atlet gitu lawannya. Ada ragu-ragu karena lawannya banyak atlet yang bagus juga," ceritanya.


Namun keraguan itu berhasil ia taklukkan. Kini Zaskia punya mimpi yang lebih besar.


"Harapanku bisa membanggakan orang tua, bisa menjadi atlet PON, terus bisa bikin bangga nama sekolah," tutupnya. (Sansss)

Saturday, October 3, 2026

26 Tahun Provinsi Banten, RS Sari Asih Group: Empat Dekade Konsisten Layani Kesehatan Warga

26 Tahun Provinsi Banten, RS Sari Asih Group: Empat Dekade Konsisten Layani Kesehatan Warga

26 Tahun Provinsi Banten, RS Sari Asih Group: Empat Dekade Konsisten Layani Kesehatan Warga

Tangerang Raya, Korangangsel.com – Provinsi Banten genap berusia 26 tahun pada 4 Oktober 2026. Di usia yang semakin matang, pembangunan Banten tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur dan ekonomi, namun juga dari kualitas layanan kesehatan bagi warganya.


Di tengah dinamika mobilitas dan pertumbuhan penduduk yang pesat, RS Sari Asih Group menegaskan komitmennya untuk terus menjadi bagian dari perjalanan kesehatan masyarakat Banten.


Selama lebih dari empat dekade, jaringan RS Sari Asih Group yang tersebar di wilayah Banten konsisten hadir memberikan pelayanan kesehatan yang andal, modern, dan humanis.


Selaras dengan Nilai Masyarakat Banten


Masyarakat Banten dikenal memiliki ikatan sosial, budaya, dan nilai religius Islam yang kuat. Karakter seperti kepedulian, kebersamaan, dan tolong-menolong menjadi fondasi kehidupan sehari-hari.


Nilai tersebut sejalan dengan filosofi pelayanan RS Sari Asih Group, yang mengintegrasikan layanan medis profesional berstandar modern dengan nilai-nilai Islami.


"Kami percaya, kesembuhan tidak hanya soal medis. Pengobatan tetap berlandaskan ilmu kedokteran yang profesional dan evidence-based, namun aspek kemanusiaan dan spiritualitas juga kami kedepankan untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi pasien dan keluarga," tulis manajemen RS Sari Asih Group dalam keterangannya.


Lebih dari Sekadar Pengobatan


Bagi RS Sari Asih Group, proses penyembuhan merupakan pendekatan yang menyeluruh. Tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga memperhatikan kondisi emosional dan spiritual pasien.


Melalui pendekatan yang humanis, rumah sakit berupaya menjaga martabat pasien, memberikan pendampingan intensif, serta perhatian khusus bagi keluarga pasien. Inilah yang menjadi jembatan ideal antara kemajuan teknologi kedokteran dan karakter masyarakat Banten yang religius.


Pada momentum HUT ke-26 Provinsi Banten ini, RS Sari Asih Group menegaskan akan terus konsisten mendedikasikan diri, berinovasi dalam pelayanan, dan meningkatkan mutu fasilitas demi kesehatan masyarakat Banten.


Selamat HUT ke-26 Provinsi Banten! Bersama masyarakat, terus tumbuh. Bersama Banten, terus melayani dengan kasih sayang. (Sans)

Wednesday, September 30, 2026

Guru RA Mendidik Generasi Emas, Kesejahteraannya Perlu Terus Diperkuat


NASIONAL, korantangsel.com - Guru Raudhatul Athfal (RA) memiliki peran penting dalam membangun fondasi pendidikan anak sejak usia dini. Mereka bukan hanya mengajarkan pengetahuan dasar, tetapi juga ikut membentuk karakter, akhlak, kedisiplinan dan kemampuan sosial anak.

Namun, di tengah pentingnya peran tersebut, persoalan kesejahteraan guru RA perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

Bendahara DPD Partai Masyumi Kota Tangerang, Hj. Kartinah, S.Pd., mengatakan bahwa perhatian terhadap pendidikan anak usia dini harus berjalan seiring dengan perhatian terhadap para guru yang berada di garis depan proses pendidikan tersebut.

“Jangan hanya berbicara tentang generasi emas. Kita juga harus berbicara tentang siapa yang mendidik generasi emas tersebut. Guru RA setiap hari berhadapan langsung dengan anak-anak dan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter mereka sejak usia dini,” ujar Hj. Kartinah.

Berdasarkan data Kementerian Agama melalui EMIS yang tercantum dalam Provinsi Banten Dalam Angka 2026, pada tahun ajaran 2025/2026 Kota Tangerang memiliki 350 satuan pendidikan Raudhatul Athfal dengan 1.448 pendidik/kepala sekolah dan 14.519 peserta didik.

 

Data tersebut juga mencatat bahwa seluruh RA di Kota Tangerang berstatus swasta.

Menurut Kartinah, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena guru RA berada dalam lingkungan pendidikan swasta dan memiliki karakteristik pengelolaan yang berbeda dengan sekolah negeri.

“Karena seluruh RA di Kota Tangerang berstatus swasta, kita perlu melihat bagaimana kondisi kesejahteraan guru di lapangan. Berapa honor yang mereka terima dari lembaga atau yayasan, berapa insentif yang diterima dari pemerintah, bagaimana jaminan sosialnya dan bagaimana kesempatan mereka untuk meningkatkan kompetensi,” katanya.

Kartinah mengapresiasi kebijakan Pemerintah Kota Tangerang yang memberikan dukungan kepada guru RA.

Berdasarkan Peraturan Wali Kota Tangerang Nomor 7 Tahun 2024 tentang Pemberian Insentif dan Pembiayaan Kesejahteraan bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, guru non-PNS Raudhatul Athfal pada satuan pendidikan swasta mendapatkan insentif sebesar Rp650.000 per bulan.

“Kami mengapresiasi adanya perhatian pemerintah melalui pemberian insentif Rp650 ribu per bulan. Tetapi perlu ditegaskan bahwa angka tersebut adalah insentif, bukan berarti total penghasilan atau gaji guru RA hanya Rp650 ribu,” jelas Kartinah.

Menurutnya, justru diperlukan data yang lebih lengkap mengenai kondisi penghasilan guru RA agar kebijakan kesejahteraan dapat disusun berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

“Yang perlu kita ketahui adalah berapa total penghasilan yang diterima guru RA setiap bulan. Jangan hanya melihat insentif pemerintah. Kita harus melihat honor dari lembaga, beban kerja, masa kerja, status kepegawaian, jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan serta akses terhadap sertifikasi,” ujarnya.

Kartinah juga menilai penting untuk memastikan guru RA mendapatkan kesempatan yang sama dalam peningkatan kompetensi dan pengembangan profesional.

“Guru RA memiliki tanggung jawab yang besar. Mereka mendidik anak-anak pada fase yang sangat menentukan perkembangan karakter dan kemampuan dasar. Karena itu, peningkatan kualitas guru harus berjalan bersama dengan peningkatan kesejahteraan mereka,” katanya.

DPD Partai Masyumi Kota Tangerang mendorong adanya pemetaan kondisi guru RA secara lebih menyeluruh.

 

Pemetaan tersebut antara lain meliputi:

1. Jumlah guru RA non-ASN di Kota Tangerang.

2. Besaran honor yang diterima guru dari lembaga atau yayasan.

3. Besaran insentif pemerintah yang diterima.

4. Status kepesertaan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

5. Jumlah guru yang telah memperoleh sertifikasi.

6. Jumlah guru yang belum tersertifikasi.

7. Beban kerja dan jam mengajar guru.

8. Akses terhadap pelatihan dan peningkatan kompetensi.

9. Kondisi kesejahteraan guru RA di masing-masing kecamatan.

“Kami berharap pemerintah bersama Kementerian Agama, IGRA, yayasan dan pengelola RA dapat duduk bersama untuk melihat persoalan ini secara menyeluruh. Jangan sampai ada guru yang memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anak, tetapi kesejahteraannya belum sebanding dengan beban yang mereka jalankan,” tutur Kartinah.

Kartinah menegaskan bahwa perhatian terhadap guru RA bukanlah upaya untuk menyalahkan pihak tertentu.

“Ini bukan soal menyalahkan pemerintah atau yayasan. Ini soal bagaimana kita bersama-sama memastikan pendidikan anak usia dini berjalan dengan baik dan para gurunya mendapatkan perhatian yang layak,” tegasnya.

Menurutnya, pendidikan anak usia dini merupakan investasi jangka panjang bagi Kota Tangerang.

“Kalau kita ingin anak-anak Kota Tangerang tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak dan memiliki karakter kuat, maka kita harus memperhatikan guru yang mendidik mereka sejak awal. Guru RA adalah bagian penting dari investasi masa depan Kota Tangerang,” pungkas Hj. Kartinah, S.Pd. (korantangsel.com – dini)

 
Copyright © 2014 RANSEL. Designed by OddThemes